70 Bidadari bagi Pecinta Nabi Muhammad ﷺ dan Shalawat

ditulis oleh: Abdul Adzim

Dahulu ada salah satu umat Nabi Musa as (Bani Israil), selalu berbuat kemunkaran selama 200 tahun. Setelah ia meninggal dunia, kaum Bani Israil membuangnya di tempat sampah. Lantas Allah ﷻ Berfirman kepada Nabi Musa as: “Wahai Musa (Nabi-Ku), uruslah jenazah hamba-Ku (yang terbuang di tempat sampah). Mandikan, kafani, sholati dan kuburkanlah dengan cara yang terhormat”. Nabi Musa as kemudian berkata kepada Allah ﷻ: “Ya Allah Ya Robbi, sesungguhnya banyak sekali dari umatku (Bani Israil) yang telah menyaksikan prilakunya yang tidak terpuji selama 200 tahun, sehingga mereka membuangnya di tempat sampah…”

Allah ﷻ kemudian Berfirman kepada Nabi Musa as: “Wahai Musa, memang benar apa yang disaksikan oleh umatmu (Bani Israil), akan tetapi, yang telah Aku ketahui (sendiri) bahwa sesungguhnya, di akhir hayatnya, ia setiap membuka kitab suci Taurat dan melihat nama kekasih-Ku (Nabi Muhammad ) ia selalu mencium nama tersebut dan menaruhnya di kedua mata (wajah)nya, serta senantiasa bersholawat kepadanya (Nabi Muhammad ﷺ). Oleh sebab itulah Aku (Allah ﷻ) telah mengampuni seluruh dosa-dosanya dan akan Aku masukkan ia ke dalam surga dengan memberinya istri 70 bidadari yang cantik jelita.”

*****

Kisah di atas diceritankan oleh Abdullah bin Muhammad bin Ja’far, Abu bakar ad-Dainuriy al-Muffassir, Muhammad bin Ayyub al-Athar dan Abul Mun’im bij Idris dari Ayahnya dari kakeknya dari Wahhab al-Munabbih. Berikut redaksi aslinya:

حدثنا عبد الله بن محمد بن جعفر ، ثنا أبو بكر الدينوري المفسر ، ثنا محمد بن أيوب العطار ، ثنا عبد المنعم بن إدريس ، عن أبيه ، عن جده وهب ، قال : كان في بني إسرائيل رجل عصى الله مائتي سنة ثم مات ، فأخذوا برجله فألقوه على مزبلة ، فأوحى الله إلى موسى عليه السلام أن اخرج فصل عليه ، قال : يا رب ، بنو إسرائيل شهدوا أنه عصاك مائتي سنة ، فأوحى الله إليه هكذا كان ، إلا أنه كان كلما نشر التوراة ونظر إلى اسم محمد صلى الله عليه وسلم قبله ووضعه على عينيه وصلى عليه ، فشكرت ذلك له ، وغفرت ذنوبه وزوجته سبعين حوراء .

wallaahu a’lam..

Referensi:

a) Al-Hafidz Abi Nu’im Ahmad bin Abdillah al-Ashfaniyhal, Hilyatu al-Auliya wa Thabaqati al-Ashfiya (Daru al-Kutub al-Ilmiyah), hal. 42; b) Al-Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahaniy, Hujjatu Allah ala al-‘Alamin fi Mu’jaziy al-Mursalan (Daru al-Kutub al-Ilmiyah), hal. 95; c) Syaikh Jalaluddin Abdurrahman as-Suyuthi, Kifayatu ath-Thalib al-Labib fi Khashoishu al-Habib dikenal dengan nama al-Khashoishu al-Kubro (Daru al-Kutub al-Ilmiyah), juz 1, hal 29

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *