Kopi Kehidupan

ditulis oleh: Kang Tohir

“Urip mung mampir ngombe” (Hidup hanya mampir minum)

Bagi masyarakat Jawa pasti tidak asing dengan ungkapan di atas. “Unen-unen” ini sudah menjadi falsafah hidup mereka. Makna yang dikandungnya sangat berarti. Hidup di dunia hanya sesaat. Itu intinya. Sebagaimana interpretasi kata “mampir”. Senada dengan perkataan imam Ali bin Abi Thalib, “Al-Dunya sa’ah faj’alha tha’ah” (Dunia hanya sesaat maka jadikanlah untuk meraih ketaatan). Paling lamanya orang mampir pasti akan melanjutkan perjalanannya untuk sampai ke tujuan semula. Dan tujuan akhir dari kehidupan dunia adalah kehidupan yang abadi yakni di akhirat. “Walal aakhiratu khairun wa abqa“. (padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal).

Pertanyaan “nyleneh” dalam ungkapan “mampir ngombe” adalah apa yang diminum?. Padahal jenis dan macam minuman itu banyak. Ada softdrink, es campur, cincau, cendol, doger, oyen, dsb. Kalau zaman dulu mungkin jenis minuman terbatas antara air putih, teh atau kopi. Sepintas tidak penting minuman apa yang “diombe”. Ya, karena kata kunci dari ungkapan di atas adalah “mampir”. Tapi bila dielaborasi lebih jauh, maka jenis minuman itu akan sedikit bermakna. Dari ketiga minuman yang dimungkinkan, dugaan saya yang diminum adalah kopi. Karena kalau air putih terlalu tawar. Hidup di dunia ini dinamis, variatif, majemuk, plural dan warna-warni. Tidak seperti air putih yang tawar dan hambar. Bukan juga seperti teh yang hanya didominasi oleh rasa manis. Meski tanpa gula, terkadang teh masih agak tawar dan tidak begitu terasa aroma tehnya. Meskipun keduanya mungkin lebih menyehatkan dibandingkan kopi. Atau paling sedikit efeknya terhadap kesehatan.

Kopi, tentunya yang hitam bukan white coffee, adalah perpaduan rasa manis gula dan pahitnya bubuk kopi. Manis adalah representasi rasa dunia yang menarik bagi siapa saja. “Sesungguhnya harta benda dunia itu kelihatannya hijau dan manis”. (HR. Muslim). Rasa manis identik dengan kesukaan anak kecil. Permen, manisan, coklat, es krim adalah contoh jajanan yang manis kegemaran mereka. Sementara anak kecil adalah potret nafsu manusia. Sebagaimana diibaratkan oleh imam Bushairi dalam potongan bait Burdahnya, “Wannafsu katthifli“.

Orang yang gemar mengkonsumsi makanan manis akan berpotensi terserang diabetes dan penyakit berat lainnya. Kadar gula darah yang terlalu tinggi dapat merusak organ, saraf, pembuluh darah di mata, ginjal dan jantung. Penyakit yang ditimbulkan di antaranya adalah kebutaan, jantung, stroke dan gagal ginjal. Resiko paling ringan mungkin cuci darah atau amputasi anggota tubuh, jika sudah terlanjur parah.

Mirip dengan orang yang hidupnya hanya diorientasikan pada keduniawian. Kadar “Gula dunia” yang menumpuk akan mengakibatkan “jantung kehidupannya” tidak normal. “mata batinnya” bisa mengalami kebutaan. Minimal harus di”cuci” jiwa atau harta yang selama ini dicintainya secara teratur, atau “diamputasi” agar bisa bertahan hidup. Sedangkan kopi murni yang dikonsumsi tanpa gula maupun susu, sebagaimana dilansir oleh situs alodokter.com, mengandung antioksidan tinggi dan beberapa nutrisi, vitamin atau unsur lain yang bermanfaat bagi tubuh. Selain itu juga dapat mengurangi resiko terkena diabetes, depresi, gangguan fungsi otak, parkinson, penyakit pada organ hati, dan menjaga kesehatan jantung.

Pahitnya rasa kopi kurang lebih seperti “pahitnya” hidup karena adanya musibah, bala, ujian dan cobaan. Ketidaknyamanan, ketidakamanan, dan ketidakpastian adalah bagian dari rasa pahit dalam menjalaninya. Di balik kepahitan hidup itu ada manfaat dan hikmah yang tersimpan. Syekh Said Ramadhan Al-Buthi dalam “Al-Insanu Musayyarun am Mukhayyarun mencantumkan sedikitnya tiga hikmah di balik musibah.

Pertama, segala musibah adalah bagian dari upaya menyadarkan manusia akan kekuasaan Allah. Bahwa alam semesta dengan segala isinya dan dunia beserta penghuninya itu di bawah kendali Allah. Bukan kemauan spesies manusia yang menentukannya. Bukan pula karena sudah dari “sono”nya.

Kedua, cobaan yang menimpa manusia sekaligus akan menyadarkan akan besarnya nikmat yang dirasakan sebelum turunnya musibah. Pun betapa pentingnya mensyukurinya.

Ketiga, musibah adalah bagian dari siklus kehidupan yang bergantian dengan kesenangan. Sebagaimana hidup di dunia adalah bagian dari sisi yang akan berputar dan berganti dengan kematian, lalu kehidupan dalam alam kubur dan berikutnya kehidupan abadi.

Dari sini manusia akan menyadari bahwa hidup tidak selamanya menyenangkan, demikian juga tidak selamanya menyedihkan. Semua ada masanya. Ketidaknyaman menjalani hidup saat ditimpa musibah akan mendewasakan seseorang untuk kehidupan di masa yang akan datang. Manakala hanya manisnya hidup yang dirasakan manusia, tentu dia akan terkejut ketika pada saatnya nanti dia harus meninggalkan dunia ini. Di sinilah letak keseimbangan hidup itu. Adanya rasa pahit akan menjadikan rasa manis itu begitu berarti. Ibarat minuman kopi yang takaran kopi dan gulanya pas, sehingga rasanya begitu nikmat.

Dari sini muncullah “edisi revisi” untuk ungkapan yang disebut di awal tulisan, “Urip mung mampir ngopi”. (Rowahu Netizen)..

 

wallaahu a’lam..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *