Pengemis yang berbeda Pengharapan

ditulis oleh: Kang Tohir

Semua kebaikan yang diperoleh manusia di dunia maupun akhirat tidak lain karena kemurahan Allah semata. Kalaupun ada orang yang menjadi sebab kebaikan itu, tetaplah Allah yang menggerakkanya.

Alkisah ada dua pengemis buta duduk di tepi jalan yang biasa dilalui Ummu Jakfar, seorang yang terkenal dermawan pada saat itu. Setiap saat keduanya berdoa. Pengemis pertama berkata dalam doanya, “Ya Allah berikanlah aku anugrah-Mu”. Sedangkan yang kedua berdoa, “Ya Allah berikanlah aku kemurahan Ummu Jakfar”. Setiap harinya kedua pengemis itu mendapat kiriman dari Ummu Jakfar. Pengemis pertama mendapatkan dua dirham, sementara pengemis kedua mendapat dua potong roti dan seekor ayam panggang. Dalam perut ayam tersebut Ummu Jakfar meletakkan 10 dinar.

Pengemis kedua merasa pemberian yang diterima berupa makanan tidak sebesar nilai yang diterima pengemis pertama. Setiap kali kiriman datang, diapun selalu menukarkan makanan itu dengan dua dinar milik temannya. Karena dia tidak tahu isi perut ayam panggang. Maklum, namanya juga pengemis buta.

“anak-anakmu banyak, mereka lebih membutuhkan makanan ini daripada aku. Dan dua dirham itu berikan padaku sebagai gantinya”. Demikian kata pengemis membujuk kawan seprofesinya.

 

Suatu saat Ummu Jakfar menyuruh pembantunya bertanya pada pengemis kedua yang menerima roti dan seekor ayam panggang. “Apakah pemberian Ummu Jakfar sudah mencukupimu?”. Tanya pembantu itu. Pengemis itupun menjawab, “Demi Allah belum cukup. Karena yang aku terima hanya makanan, padahal aku butuh lebih dari itu. Makanya aku jual makanan itu pada teman pengemisku seharga dua dirham”.

Sang pembantu pun melaporkan hasil “wawancara” dengan pengemis tersebut. Mendengar itu, Ummu Jakfar hanya terdiam dan merenung. Dalam hatinya dia hanya membenarkan bahwasanya manakala Allah sudah berkehendak, maka tak seorang pun (termasuk dirinya) yang dapat menghalangi apalagi membatalkan. “Ma sya Allahu kana wama lam yasya’ lam yakun“. Seperti kata orang Jawa, “Yen iyo mosok ora, yen ora mosok iyo”. Semoga bermanfaat. insyaa Allaah..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *