Etika pada Guru lebih Mulia daripada Segudang Ilmu

ditulis oleh: Abdul Adzim

ﺍﻷﺩﺏ ﻓﻮﻕ ﺍﻟﻌﻠﻢ

“Etika di atas ilmu”

Pepatah singkat ini sangatlah relevan untuk mengingatkan kita dan para pelaku ilmu agar jangan sekali-sekali meninggalkan adab (etika) pada guru kita yang telah susah payah mengajarkan ilmunya, baik saat masih masa belajar atau sudah menjadi pengajar. Dahulu, sekarang hingga seterusnya.

Al-Habibi Zain bin Ibrahim bin Sumaith ra dalam karyanya yang berjudul al-Minhaju as-Sawiy Syarhi Usuli Thariqah as-Sadati Ali Ba’alawiy, mengutip dari berbagai qaul ulama mengatakan:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: ﻧﺤﻦ ﺇﻟﻲ ﻗﻠﻴﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﺩﺏ ﺃﺣﻮﺝ ﻣﻨّﺎ ﺇﻟﻲ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻢ. ﺍﮬــ

Ibnu al-Mubarak ra berkata : “Kami lebih butuh sedikitnya adab (etika) yang dapat kami peroleh di bandingkan banyaknya ilmu”.

وقال أبو علي الدقاق رحمه الله: ترك الأدب موجب للطرد، فمن أساء الأدب على البساط رد إلى الباب، ومن أساء الأدب على الباب رد إلى سياسة الدواب، ذكر ذلك في “نشر المحاسن”

Abu Ali ad-Daqqaq ra dalam kitab Nasyru al-Mahasin berkata; “Meninggalkan adab dapat menyebabkan terlempar, maka barang siapa yang buruk adab (etika)nya saat menginjak permadani (kerajaan), ia akan terlempar kepintu gerbang dan barang siapa yang buruk adab (etika)nya saat berada dipintu gerbang, ia akan terlempar ketempat pelatihan binatang”.

 

وقال بعضهم لابنه: “يا بني، لأن تتعلم بابًا من الأدب أحب إليَّ من أن تتعلم سبعين بابًا من أبواب العلم. ﺍﮬــ “

Sebagian ulama berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya kau belajar 1 bab dari masalah adab (etika) lebih aku senangi dari pada kau belajar 70 bab dari bab-bab ilmu”.

ﻛﺎﻥ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻳﻘﻮﻝ : ﻗﺎﻝ ﻟﻲ ﻣﺎﻟﻚ _ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ _ : ﻳﺎ ﻣﺤﻤﺪ ، ﺇﺟﻌﻞ ﻋﻠﻤﻚ ﻣﻠﺤﺎ ﻭﺃﺩﺑﻚ ﺩﻗﻴﻘﺎ . ﺍﮬــ

Al-Imam asy-Syafi’i telah berkata : “Imam Malik berkata kepadaku: “Wahai Muhammad! jadikanlah Ilmumu itu seperti garam dan jadikanlah adab (etika)mu seperti tepung.”

 

وﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ رحمه الله : ﺧﺪﻣﺖ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻋﺸﺮﻳﻦ ﺳﻨﺔ، ﻓﻜﺎﻥ ﻣﻨﻬﺎ ﺳﻨﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺛﻤﺎﻧﻲ ﻋﺸﺮﺓ ﺳﻨﺔ ﻓﻲ ﺗﻌﻠّﻢ ﺍﻷﺩﺏ، ﻓﻴﺎ ﻟﻴﺘﻨﻲ ﺟﻌﻠﺖ ﺍﻟﻤــــﺪﺓ ﻛﻠﻬـﺎ ﺃﺩﺑﺎ . ﺍﮬـــ

Abdurrahman bin Qasim ra berkata: “Aku pernah khidmat (mengabdi) kepada Imam Malik selama 20 tahun, dan dari 20 tahun itu hanya 2 tahun aku belajar ilmu dan 18 tahun aku belajar adab (etika), setelah aku mengetahui ilmu adab (etika), aku berandai-andai ingin menjadikan semua waktuku untuk belajar adab (etika).”

حكي عن أبي يزيد البسطامي رحمه الله أنه قصد إلي زيارة رجل يذكر بالصلاح، فانتظره في مسجد، وخرج الرجل فألقى نخامة في المسجد، أي في جداره من خارج، فرجع الشيخ ولم يجتمع به، وقال: لايؤمن على أسرار الله من لم يحاظ على آداب الشرع.

Diceritakan dari Imam Abu Yazid al-Busthamiy ra, pada suatu hari Abu Yazid hendak mengunjungi seorang laki-laki yang dikenal shaleh (wali). Ia menunggunya di (depan) Masjid, tak lama kemudian laki-laki itu keluar dari Masjid dengan membuang dahaknya di tembak Masjid. Melihat perilaku laki-laki itu Abu Yazid mengurungkan niatnya, tidak ingin lagi menemuinya dan kembali pulang ke rumahnya sembari berkata: “Tidak bisa dipercaya memelihara rahasia-rahasia Allah ﷻ, orang itu tidak memelihara adab-adab (etika-etika) syariat”.

 

••••

Yang terakhir, Imam Malik ra pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab (etika) sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Kenapa sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab? Syaikh Yusuf bin al-Husain ra berkata:

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab (etika), maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

 

Waallahu A’lamu.

Semoga Manfaat, semoga kita selalu dapat menjaga etika mulia kepada guru-guru kita, insyaa Allaah. Aamiin

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *