Pembagian Sepertiga

Ditulis oleh: Kang Tohir

“Manusia tidak memenuhi wadah yang buruk melebihi perut, cukup bagi manusia beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya, bila tidak bisa maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Tirmidzi).

Kandungan inti hadits ini adalah “manajemen perut”. Sangat tepat diamalkan di bulan Ramadhan. Khususnya oleh orang yang berpuasa. Karena saat berbuka, orang cenderung menyantap semua makanan dan minuman yang dihidangkan. Sehingga hampir tidak ada ruang kosong dalam perutnya. Padahal anjuran Nabi Muhammad agar membaginya menjadi tiga bagian.

 

Ini tentang angka sepertiga (1/3). Ya hanya angka itu, bukan lainnya. Bukan juga tentang hikmah di balik pembagian organ pencernaan (ma’idah) yang memang secara struktur anatomi terdiri dari tiga bagian. Itu otoritas medis yang menjelaskan.

Ada sebuah buku yang khusus membahas tentang misteri angka. Judulnya The Mystery of Numbers, karya Annamarie Schimmel, yang diterbitkan versi Indonesia oleh Pustaka Hidayah dengan judul Misteri Angka-angka dalam Peradaban Kuno dan Tradisi Agama Islam, Yahudi dan Kristen. Bagi yang pernah membacanya mungkin bisa menghubungkan angka sepertiga dengan misteri di baliknya (jika memang ada).

Angka sepertiga (1/3) atau pembagian tiga itu unik. Banyak hal menarik terkait dengan angka tersebut. Adakah misteri di balik angka tersebut? Wallahu a’lam.

Yang jelas sepertiga adalah angka yang terkait dengan banyak tema keagamaan. Sebut saja misalnya riwayat yang terkait dengan puasa. Bahwa Ramadhan juga terbagi menjadi tiga bagian. (Sepertiga) pertamanya adalah rahmat, berikutnya adalah ampunan dan terakhir merupakan pembebasan dari neraka.

 

Contoh lainnya adalah sepertiga malam terakhir. Waktu yang berkisar antara pukul 02:00 hingga 04:00 waktu Indonesia itu dikenal dengan “sa’atul ijabah” (saat dikabulkannya doa). Dalam tasawuf nafsu manusia terbagi tiga: Nafsu Ammarah lissui (yang mendorong pada kejahatan), Nafsu Lawwamah (yang mencela) dan Nafsu Muthmainnah (yang tenang). Hukum dasar dalam Islam juga ada tiga kategori: halal, haram dan syubhat. (Inna al-halala bayyinun wainna al-harama bayyinun wabainahuma musytabihatun).

Sepertiga juga menjadi batas maksimal bagi orang yang akan mewasiatkan hartanya sebelum meninggal. Sepertiga sudah termasuk banyak untuk ukuran wasiat, demikian petunjuk Nabi. Pertimbangannya adalah karena masih ada ahli waris yang berhak atas harta tersebut. Lebih dari itu, meninggalkan ahli waris dalam keadaan berkecukupan dan kaya lebih baik daripada miskin papa dan meminta-minta.

 

Sepertiga yang tidak kalah menarik terdapat dalam kisah nabi Musa. Saat terjadi insiden pembunuhan yang tidak diketahui pelakunya, nabi Musa memerintahkan untuk menyembelih sapi guna mengungkap pelaku kriminal itu. Sapi yang kriterianya dipersulit sendiri oleh Bani Israil itu milik pemuda yang berbakti pada orang tua. Sapi itu dijual dengan harga mahal, sesuai dengan saran dari jelmaan malaikat yang ditemui ketika hendak ke pasar untuk menjualnya. Harganya adalah emas seberat timbangan kulitnya.

Konon pemuda pemilik sapi itu selalu membagi waktu malamnya untuk tiga hal. Sepertiga pertama untuk menjaga ibunya, sepertiga kedua untuk istirahat dan sepertiga terakhir untuk beribadah. Pada siang hari pemuda itu bekerja mencari kayu dan menjualnya. Lalu hasilnya juga dibagi tiga. Sepertiga untuk makan, sepertiganya disedekahkan dan sepertiga lainnya diberikan pada ibunya.

Terakhir, masih banyak sepertiga-sepertiga lainnya yang belum disebut dalam catatan singkat ini. Tentunya angka-angka tersebut menarik dan “misterius”

 

Wallaahu a’lam..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *