Seorang Wali yang menjadi Budak

Ditulis oleh : Abdul Adzim

Diceritakan dari Abdullah bin Mubarok, Beliau berkata: “Ketika aku berada di Mekkah terjadi kemarau panjang, orang-orang berkumpul di Arafah untuk meminta hujan, akan tetapi bukannya turun hujan malah semakin panas.” Mereka melakukan hal itu dihari Jum’at , dan hari jum’at kemudian, mereka semua keluar menuju Arafah kembali, dan aku melihat ada seorang budak hitam yang berbadan kurus , dia melakukan shalat dua raka’at, kemudian sujud dan berdo’a: وعزتك لا ارفع رأسى من السجود حتى تسقى عبادك “Ya Allah, demi kemulyaan-Mu, aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud ini sehingga Engkau berkenan memberikan siraman hujan pada hamba-hamba-Mu.” Kemudian aku melihat segumpal awan hitam datang, maka berkumpullah menjadi gumpalan-gumpalan mendung sehingga langit menjadi gelap dan turunlah hujan dengan derasnya.

Maka laki-laki itu berucap: “Alhamdulillaah”, dan pergi. Lalu aku mengikuti jejaknya sehingga aku melihat laki-laki itu masuk kedalam sebuah tempat penjualan budak. Kemudian aku pulang dan dipagi harinya aku membawa bekal dirham dan dinar menuju ke rumah penjualan budak tersebut. Sesampainya disana, aku berkata: “Aku ingin membeli budak.” Lalu sang penjual budak mengeluarkan budak-budaknya sekitar 30 orang, kemudian aku bertanya: “Apakah selain ini masih ada lagi?” Maka penjual itupun menjawab: “Masih ada satu budak maysum, akan tetapi orangnya pendiam.”

Lalu aku berkata: “Mana, tolong perlihatkan padaku.” Lalu penjual itu mengeluarkan budak yang pernah aku lihat itu. Lalu aku bertanya: “Berapa harga budak ini?” Lalu penjual itu menjawab: “Aku membeli budak ini 20 dinar tapi jika untukmu cukup 10 dinar saja.” Lalu aku berkata : “Tidak , aku akan menambahkan lagi menjadi 27 dinar.” Akhirnya aku mengambilnya dan membawanya pulang. Lalu budak itu bertanya kepadaku : “Wahai tuanku, kenapa engkau membeliku sedangkan aku ini tidak mampu melayanimu?.” Lalu aku menjawab: “Justru aku membelimu agar kamu menjadi tuanku dan aku yang akan melayanimu.”

Lalu ia bertanya: “Kenapa kau melakukan ini?” Lalu aku menjawab: “Kemaren aku melihat kamu berdo’a kepada Allah ﷻ dan seketika itu Allah mengabulkannya dan dari situlah aku tahu kemulyaanmu disisi Allah ﷻ. ” Lalu budak itu bertanya: “Apakah kau benar-benar melihatnya kemaren?” Lalu aku menjawab: “Iya, aku benar-benar melihatnya.” Lalu ia bertanya: “Apakah engkau ingin memerdekakan aku?” Lalu aku menjawab: “Sungguhnya kamu itu telah merdeka dihadapan Allah ﷻ.”

Lalu aku mendengar hatif (suara gaib): يا ابن المبارك، أبشر فقد غفر الله لك “Wahai Ibnu Mubarok, berbahagialah engkau karena Allah ﷻ telah mengampunimu.” Akhirnya, budak itu berwudhu dan shalat dua raka’at, lalu ia berucap: الحمد لله، هذا عتق مولاي الاصغر فكيف يكون عتق مولاي الاكبر؟” “Aku bersyukur, telah dimerdekakan oleh tuanku yang kecil, bagaimana rasanya jika dimerdekakan oleh Tuanku yang Maha Agung?” Kemudian dia berwudlu lagi dan shalat lagi dua raka’at, kemudian ia menengadahkan kedua tangannya sembari berdo’a: إلهي أنت تعلم إني عبدتك ثلاثين سنة , وأن العهد بيني وبينك ان لا تكشف ستري، فحين اذ كشفته فاقبضني إليك “Yaa Allah, Engkau telah mengetahui bahwa aku ini telah beribadah kepadamu selama 30 tahun, dan telah terjadi sebuah perjanjian antara diriku dengan-Mu bahwa jangan sampai terbuka rahasiaku ini, jika telah terbuka seperti ini, maka cabutlah nyawaku. Lantas ia terjatuh dan meninggal dunia seketika.

Kemudian aku mengkafaninya , akan tetapi tidak dengan kain kafan yang bagus, aku menyalatinya dan menguburkannya. Dan ketika aku tidur, aku melihat seorang laki-laki tampan dengan pakaian rapi dan ia bersama laki-laki besar yang juga tampan rupawan, kemudian keduanya memegang pundaknya masing-masing, kemudian ia bertanya kepadaku. ” Hai Ibnu Mubarok, apakah kamu tidak malu kepada Allah?” Kemudian mereka itu berjalan, lalu aku bertanya : “Siapa engkau?”

Laki-laki itu menjawab: أنا محمد رسول الله وهذا أبي ابراهيم “Aku adalah Rasulullah ﷺ dan ini adalah datukku Ibrahim as .” Lalu aku berkata: “Bagaimana mungkin aku tidak malu kepada Allah ﷻ sedangkan aku ini melakukan shalat.” Lalu Rasulullah ﷺ menjawab: يموت ولي من أولياء الله تعالى فلا تحسن كفنه “Salah satu wali Allah telah meninggal dunia , akan tetapi engkau tidak mau memberi kain kafan yang bagus.” Maka pada keesokan harinya, aku mengeluarkan budak itu dari kubur dan aku memberinya kain kafan yang bagus , menyalatinya dan menguburkannya kembali.

Wallaahu a’lam..

Referensi:

Ahmad Syihafuddin bin Salamah al-Qulyubiy| Nawadir al-Qulyubiy| Daru al-Kutub al-Ilmiyah, hal 11-13

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *